Mengenang Seabad Penyair Chairil Anwar, Rumah Oettara Banjarbaru Pantik Diskusi | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

Senin, 01 Agustus 2022

Mengenang Seabad Penyair Chairil Anwar, Rumah Oettara Banjarbaru Pantik Diskusi

BERITABANJARMASIN.COM - Diskusi memeringati satu abad penyair Chairil Anwar dilaksanakan di Rumah Oettara Banjarbaru, Minggu (31/7/2022) malam.

Malam itu pasca gerimis yang syahdu, puisi-puisi Chairil dibacakan oleh peserta diskusi yang hadir. Mulai dari sastrawan, seniman, hingga pengunjung Rumah Oettara yang menikmati diskusi puisi-puisi Chairil. Seperti Derai-derai Cemara, Diponegoro, Krawang-Bekasi, Sia-sia, Senja di Pelabuhan Kecil, Cinta dan Benci, hingga yang palig popular puisi Aku.

Pembacaan puisi-puisi ini merupakan bagian dari kegiatan mengenang seabad Chairil Anwar 1922-2022 dengan tema “Puisi-puisi Chairil” yang dipantik oleh Dewi Alfiantiakademisi dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat dan Ali Syamsudin Arsi, Sastrawan dan Founder Kindai Seni Kreatif Banjarbaru. "Kegiatan ini merupakan Kolaborasi bersama antara Rumah Oettara dan Kindai Seni Kreatif," ujar Novyandi Saputra, founder Rumah Oettara.

Menurutnya, siapa pun yang mandengar nama Chairil Anwar pasti fikirannya akan tertuju pada satu kata: puisi. Chairil Anwar tak bisa dipisahkan dari sejarah panjang Sastra Indonesia. 

Meski hidup singkat sebagai manusia namun tidak sebagai seorang seniman yang melahirkan karya-karya abadi. Chairil disebutnya telah berhasil memberi pengaruh yang dalam pada persajakan modern Indonesia. 

Ali Arsy memberikan gambaran tentang bagaimana karya-karya puisi Chairil yang memberi ruang tersendiri terhadap dunia kesusastraan Indonesia. Bagi Ali Arsy juga pengaruh Chairil ini tak lepas dari kanon sastra yang cukup menitik beratkan kepada Chairil dan karya-karyanya.  

Ia juga mengomentari soal patron pembacaan puisi yang selalu tak bisa lepas dari perspektif-perspektif lama. "Sekarang perlu banyak model dan cara memaknai puisi sebagai media ekspresi," jelas ia.

Dewi Alfianti sebagai pemantik lainnya memberi narasi lain tentang puisi-puisi Chairil. Bagi Dewi, di era angkatan 45, Chairil justru menjadi diskursus terhadap angkatan tersebut. Chairil hadir sangat personal dan liberalis membicarakan “keakuan”-nya. 

"Namun justru hal semacam itu yang memberi dia sesuatu yang berbeda dan memberi pembaharuan terhadap dunia kesusastraan Indonesia," ujar Dewi.

Malam yang dibarengi gerimis juga menambah suasana diskusi semakin panjang. Ada Hajriansyah Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, HE Benyamine, Direktur Akademi Bangku Panjang MGR, Sastrawan Abdurrahman Elhusaini, teman-teman Forum Sineas Banua dan para pegiat sastra Banua.

Melalui kegiatan ini juga muncul wacana tentang melihat kembali peta sastra Banua, terutama berkaitan dengan jejak rekam karya tokoh-tokoh sastra di Kalimantan Selatan. Bahwa berangkat dari peringatan seabad Chairil ini memberi ruang apresiasi luas terhadap sastrawan banua dengan karya-karyanya.

Sebagai informasin, Rumah Oettara masih menggelar pameran Intim Hajriansyah hingga 23 Agustus 2022. Tanggal 3 Agustus 2022 aka digelar diskusi tentang Iklim Seni Rupa Indonesia; Studi Bahas Seni rupa Kalimantan Selatan” dengan pembicara Rokhyat dan Hajriasnyah. (rilis)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only

close
pop up banner